Betul sekali om Agus, mudah-mudahan makin lama kesenjangan bandwidth antar lokasi makin bisa diminimalisir. :)
Semua app di Google App Engine (note: Google App Engine berbeda dengan Google Apps) di-host di datacenter-nya Google, menggunakan infrastruktur dan low-level service yang sama dengan produk-produk Google lainnya. (e.g. Gmail, Google Plus) Kalau dari hasil sharing Google rep waktu beliau presentasi di kantor saya, app yang kita deploy sebenarnya di-replikasi di banyak datacenter Google di seluruh dunia. Jadi theoretically meski saya develop app di Eropa, kalau ada user dari Indonesia yang akses app saya, rekues tersebut diarahkan ke datacenter terdekat (e.g.
Singapura) dan app kita di-warm-up di sana. Hasil akhirnya latensi ke end user bisa seminimal mungkin.
Awalnya saya juga bingung kenapa App Engine ngga ngasih opsi deploy ke lokasi geografis tertentu, tapi ternyata gara2 mereka punya strategi replikasi di atas, lokasi deployment jadi kurang relevan, karena bisa dianggap app kita di-deploy ke seluruh dunia secara sekaligus. :D Selain Azure, Amazon Web Services juga punya opsi buat deploy app kita di lokasi geografis tertentu. Baik Azure maupun AWS bisa kita rekues supaya deploymentnya ke datacenter mereka di
Singapura.
Karena, seperti yang om Agus bilang, lompatan jaringan Indonesia ke Singapura relatif kecil, menurut saya develop cloud app menggunakan tiga PaaS di atas bisa cukup bersaing dengan IaaS dalam negeri. Seberapa bersaing? Kembali ke kebutuhan masing-masing, dan jangan lupa benchmark dulu supaya tahu latensinya sudah memadai atau belum untuk kebutuhannya. :)
Cheers,
Ibam