Surat-surat ini meminjam puisi Wiji
Thukul ditulis dengan Tetes Darah ( “aku akan menulis dengan tetes darah!). Tetes darah
bukan semata menandakan luka, tapi tetes darah yang menandakan kecintaan pada
hidup yang dijalani dengan kehormatan, dengan tabah. Dan sungguh mereka adalah
mutiara bagi bangsa yang luka, dilukai dan melukai diri terus menerus.
catatan berikut ini disampaikan
saat pembukaan pameran MELAWAN LUPA(pameran dibuka untuk umum hingga tanggal 31 Mei 2012; 09.00
- 21.00 WIB (termasuk sabtu-minggu); Galeri KONTRAS Jl. Borobudur 14 Menteng
Jakarta Pusat)
Sekilas liputan video : http://www.inilah.com/inilahtv/play/9890/goresan-luka-kemanusiaan
Sekilas
surat-surat korban (keluarga korban) pelanggaran
ham :
Seribu Surat Bukan untuk Kepala Batu
http://kbr68h.com/saga/77-saga/24843-seribu-surat-bukan-untuk-kepala-...
(kami sedang menggarap ruang pamer di social media
agar bisa diakses lebih luas oleh public)
tahan rasa pedih itu / dengan ketabahan
/ ia akan menjadi mutiara bagi kerang yang luka (dipetik dr puisi Amrus
Natalsya “Warna dan Mata” )
Dalam rangka 14 tahun Reformasi, Kontras dan Galeri
Rupa Lentera di Atas Bukit (kerja.pembebasan) mengadakan pameran dan perayaan
kata dan warna ‘MELAWAN LUPA’.
Merayakan kata pada 1257
surat-surat rakyat korban pelanggaran hak asasi manusia, yang sesungguhnya para
‘survivor’ itu yakni mereka yang ‘menahan pedih dengan ketabahan’, mereka yang
kukuh melawan lupa dan berjuang menegakkan keadilan. Merekalah ‘MUTIARA BAGI
KERANG YANG LUKA’. Surat-surat ini ditujukan kepada penguasa yang sibuk
berbual-bual dengan pencitraan disatu sisi, serta abai, ingkar bahkan
menghapuskan/memanipulasi ingatan rakyat. Surat-surat beserta Kartu Tanda
Penduduk (KTP) dan foto-foto para ‘survivor” ini berasal dari 27 wilayah/ kota
dari Papua, Sulawesi, Kupang, Lampung, Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur,
Jakarta hingga Aceh.
Merayakan warna pada goresan, guratan, irisan,
sapuan warna pada serial 70 lukisan “Praktik Agung Perjuangan Rakyat “ . Bahwa
sejatinya demokrasi, hak asasi manusia serta keadilan bukanlah gagasan dan
praktik yang lahir dari menara gading atau juga pemberian 'negara', tetapi tak
lain dan tak bukan lahir dari praktik perlawanan terhadap segala bentuk penindasan
dan penjajahan. praktik agung perjuangan rakyat"
Pameran lukisan ini sendiri dibagi dalam 2 segmen.
Pertama, Momok Hiyong (memetik salah satu judul puisi Wiji Thukul) merupakan
narasi atau gambaran tentang rezim atau kekuasaan yang hingga hari ini abai dan
tidak berpihak kepada kepentingan rakyat banyak atau bahkan khianat. Semakin
terang berderang rezim yang berkuasa paska turunnya Soeharto dari tampuk
kekuasaan agaknya masih merupakan kelanjutan dari rezim masa lalu di dalam
wataknya. Kemudian apa yang dipanen dari kekuasaan zalim itu adalah Negeri
Sejuta Bencana, merebaknya kemiskinan, ketidakadilan dan rusaknya ruang hidup
rakyat. Segmen kedua, Bunga dan Tembok (kembali saya memetik salah satu judul
puisi wiji thukul ) adalah perayaan untuk “Praktik Agung Perjuangan Rakyat”.
Pada kesempatan ini saya ingin memberi penekanan
bahwa yang menjadi pokok, inti, pondasi, titik api pameran “Melawan Lupa” ini
adalah 1257 surat dari korban pelanggaran hak asasi manusia yang dipamerkan
yang versi aslinya telah disampaikan kepada Presiden hari Senin lalu tanggal 14
Mei 2002. Surat-surat ini meminjam puisi Wiji Thukul ditulis dengan Tetes Darah
( “aku akan menulis dengan tetes darah!). Tetes darah bukan semata menandakan
luka, tetes darah yang menandakan kecintaan pada hidup yang dijalani dengan
kehormatan, dengan tabah. Dan sungguh mereka adalah mutiara bagi bangsa yang
luka, dilukai dan melukai diri sendiri terus menerus. Dalam lukisan saya
tentang Penembakan Mahasiswa Trisakti dan Tragedi Mei saya menyatakan bahwa
mereka ‘dibunuh berulang kali”. Berarti kini mereka telah dibunuh untuk yang ke
14 kalinya, karena tak kunjung ada pengungkapan kebenaran dan penegakkan
keadilan bagi korban.
Bagi saya para korban (sesungguhnya Survivor) bukan
sedang membicarakan/terbenam di masa lalu, sesungguhnya mereka sedang membangun
dan menyiapkan Rumah Masa Depan bagi negeri ini seperti saya narasikan di dalam
lukisan saya tentang Aksi Kamisan - Rumah Masa Depan. Di dalam keterangan
lukisan saya menyatakan bahwa “Sesungguhnya Mereka Membela Harkat dan Martabat
Bangsa Ini - Suara-suara ‘korban’ dan keluarga korban (sesungguhnya survivor)
kejahatan kemanusiaan masa lalu tak akan pernah bisa dibungkam. Hormat atas
kegigihan, keteguhan keluarga korban (survivor) berjuang tak kenal lelah demi
mengungkapkan kebenaran, demi harkat martabat mereka yang telah dilanggar
hak-hak hidupnya, disaat yang sama sesungguhnya demi membela harkat dan
martabat bangsa ini. Menata kembalimenanamkan kembali pondasi rumah bangsa.
salam hangat, salam pembebasan
andreas iswinarto
(tukang gambar dan juru kunci geleri rupa lentera
di atas bukit)
twitter : @kerjapembebasan
facebook : Galeri Rupa
Lentera di Atas Bukit
MOMOK HIYONG
oleh Wiji Thukul
momok hiyong si biang kerok
paling jago bikin ricuh
kalau situasi keruh
jingkrakjingkrak ia
bikin kacau dia ahlinya
akalnya bulus siasatnya ular
kejamnya sebanding nero
sefasis hitler sefeodal raja kethoprak
luar biasa cerdasnya
di luar batas culasnya
demokrasi dijadikan bola mainan
hak azazi ditafsir semau gue
emas doyan hutan doyan
kursi doyan nyawa doyan
luar biasa
tanah air digadaikan
masa depan rakyat digelapkan
dijadikan jaminan utang
momok hiyong momok hiyong
apakah ia abadi
dan tak bisa mati?
momok hiyong momok hiyong berapa ember lagi
darah yang ingin kau minum?
(30 september 96)
Tembok dan Bunga
oleh Wiji Thukul
seumpama bunga
kami adalah bunga yang tak
kaukehendaki tumbuh
engkau lebih suka membangun
rumah dan merampas tanah
seumpama bunga
kami adalah bunga yang tak
kaukehendaki adanya
engkau lebih suka membangun
jalan raya dan pagar besi
seumpama bunga
kami adalah bunga yang
dirontokkan di bumi kami sendiri
jika kami bunga
engkau adalah tembok
tapi di tubuh tembok itu
telah kami sebar biji-biji
suatu saat kami akan tumbuh bersama
dengan keyakinan: engkau harus hancur!
dalam keyakinan kami
di mana pun –tirani harus tumbang!