Bukti Seorang Salafy (ternyata) bukan sekedar tahdzir hizbi

4 views
Skip to first unread message

postmaster

unread,
May 15, 2012, 6:11:09 AM5/15/12
to ISNAD.Net
BUKTI SEORANG SALAFY
BUKAN SEKEDAR TAHDZIR HIZBY

Ditulis Oleh:
Abu Fida’ Hanif bin Abul Abbas ar-Riawy
Editor:
Abu Fairuz Abdurrohman bin Soekojo Al Jawiy
-Semoga Alloh menjaga mereka-

Darul Hadits Dammaj – Yaman
-semoga Alloh menjaganya dari makar musuh dakwah-

Pengantar Penulis

Segala puji bagi Alloh yang telah berfirman dalam ayatnya:

هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ
لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَكَفَى بِاللَّهِ شَهِيدًا

“Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama
yang haq agar dimenangkan-Nya terhadap semua agama. dan cukuplah Allah
sebagai saksi.” [Al-Fath : 28].

Sungguh Alloh telah mengutus Rosululloh shallalahu ‘alayhi wa sallam
dengan petunjuk dan kebenaran tanpa ada keraguan padanya, agar umat
manusia mengikuti dan mencontoh apa yang telah diajarkan oleh
Rosululloh shallalahu ‘alayhi wa sallam kepada umat ini, tanpa harus
bersusah payah untuk membuat cara-cara yang baru. Namun sebagian
manusia masih juga belum puas sebelum mengikuti hawa nafsunya, walau
harus menentang seribu dalil asalkan apa yang dia inginkan dapat
terwujudkan. Padahal Alloh telah menyempurnakan agama ini tanpa ada
kekurangan sedikitpun. Alloh berfirman:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ
نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-
cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu Jadi agama
bagimu.” [Al-Maidah : 3].

Demikian pula Rosululloh shallalahu ‘alayhi wa sallam, beliau telah
mengajarkan segala sesuatu yang berkaitan dengan syariat ini yang akan
memberikan maslahat kepada umat ini, tanpa kita harus memeras fikiran
untuk memikirkan maslahat yang kita anggap yang tidak tegak di atas
dalil hingga rambut pun berguguran.

قد تركتكم على البيضاء . ليلها كنهارها لا يزيغ عنها بعدي إلا هلك

“Sungguh aku telah meninggalkan kalian atas kejernihan, malamnya
seperti siangnya tidak ada yang menyimpang darinya setelahku melainkan
binasa”. (HR. Ibnu Majah disohihkan imam Al-Albani).

Jika demikian maka wajib bagi manusia untuk menjadikan Rosululloh
shallalahu ‘alayhi wa sallam sebagai suri tauladan dalam segala
perkara, tanpa harus banyak bicara yang akan mengakibatkan
perselisihan dan perpecahan yang mengakibatkan kehancuran. Bukankah
Alloh تعالى berfirman :

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ
يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang
baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan
(kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.” [Al-Ahzab ;
21].

Lalu apa yang membawa sebagian mereka untuk membuat metode baru dalam
syariat ini kalau bukan karena mengikuti rayuan setan terkutuk yang
telah merasuk di dalam hatinya. Padahal mereka tahu bahwa metode
Rosululloh shallalahu ‘alayhi wa sallam sudah mencukupi dan sempurna
untuk mewujudkan segala kebaikan untuk umat manusia. Tanpa mereka
sadari hari demi hari mereka menjadi semakin jauh dari ajaran
Rosululloh shallalahu ‘alayhi wa sallam, dan hati mereka pun semakin
membeku dan membatu, sehingga teguran dan nasehat bahkan Al-qur’an dan
hadits pun tak dapat lagi menyejukkan hati mereka, karena tidak
mencocoki bahkan bertolak belakang dengan apa yang mereka inginkan,
yang telah mereka anggap sebagai kebaikan, padahal mereka pun tahu
bahwa sang pembawa dalil telah datang dengan embun yang dapat
menyejukkan. Namun hati telah terlanjur membeku akibat penyelisihan
yang telah lama bersarang di lubuk hati, atau akibat pergaulan yang
telah melekat sehingga nasehat pun menjadi berat. Ini merupakan titik-
titik kehancuran seorang hamba jika tidak segera kembali keajaran
Rosululloh shallalahu ‘alayhi wa sallam.

وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا
السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ
لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

” Dan bahwasannya ini adalah jalanKu yang lurus, Maka ikutilah Dia,
dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-
jalan itu mencerai-beraikan kalian dari jalanNya. yang demikian itu
diwasiatkan Allah agar kalian bertakwa”. [Al-An'am : 153].

Berpegang teguh dengan sunnah Rosululloh shallalahu ‘alayhi wa sallam
adalah kunci keselamatan, lebih-lebih di masa fitnah yang tengah
mengobrak-abrik kesatuan umat. Kita hidup di masa yang telah dikatakan
Rosululloh shallalahu ‘alayhi wa sallam dalam haditsnya:

فإنه من يعش منكم بعدي فسيرى اختلافا كثيرا فعليكم بسنتي وسنة الخلفاء
المهديين الراشدين تمسكوا بها وعضوا عليها بالنواجذ وإياكم ومحدثات
الأمور فإن كل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة

“Sesungguhnya barang siapa yang hidup setelahku di antara kalian maka
dia akan melihat perselisihan yang banyak, maka pegang teguhlah oleh
kalian sunnahku dan sunnah khulafa’ al-mahdiyyin ar-rosyidin berpegang
teguhlah dengannya dan gigitlah dia dengan gigi geraham, dan hati-
hatilah kalian dengan perkara yang baru sesungguhnya semua yang baru
(dalam agama) adalah bid’ah dan semua bid’ah itu sesat.” HR. Abu Dawud
dan Tirmidzi dan Ibnu Majah dari hadits Irbadh bin Sariyah disohihkan
imam Al-Albani. ([1])

Maka apakah masih berat bagi kita untuk meruju’ kepada Al-Qur’an dan
sunnah jika terjadi perselisihan. Dan apakah kita akan terus bertahan
di atas kemauan walaupun dalil tidak mendukung?! Lalu kapan kita akan
tunduk dan mewujudkan tuntutan dalil-dali tadi. Bukankah Alloh
berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا
الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ
فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ
بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

” Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul
(Nya), dan ulil amri di antara kalian. kemudian jika kalian berlainan
Pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al
Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kalian benar-benar beriman kepada
Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagi kalian)
dan lebih baik akibatnya.” [An-Nisa' :59].

Ketauilah wahai manusia, sesungguhnya fitnah itu datang hari demi hari
semakin samar, hampir-hampir tidak dapat diketahui kecuali bagi orang
yang teliti dan koreksi, sehingga banyak orang yang akan terseret
dalam fitnah tersebut tanpa sengaja ataupun dengan sengaja, disebabkan
kelalaian ataupun sedikitnya pengetahuan, atau bisa jadi disebabkan
fanatik ataupun suatu ambisi. Terfitnahlah orang yang terfitnah dan
kokohlah orang yang kokoh di atas sunnah.

Selengkapnya:
http://isnad.net/bukti-seorang-salafy-ternyata-bukan-sekedar-tahdzir-hizbi
Reply all
Reply to author
Forward
0 new messages