Google Groups Home
Help | Sign in
Fiksi Bertemu Realitas di Mesir oleh Andre Masloski
There are currently too many topics in this group that display first. To make this topic appear first, remove this option from another topic.
There was an error processing your request. Please try again.
flag
  1 message - Collapse all
The group you are posting to is a Usenet group. Messages posted to this group will make your email address visible to anyone on the Internet.
Your reply message has not been sent.
Your post was successful
CGNews-PiH Jakarta  
View profile
 More options May 12, 1:08 am
Newsgroups: alt.soc.indonesia.mature
From: CGNews-PiH Jakarta <nuruddin.asyha...@gmail.com>
Date: Sun, 11 May 2008 22:08:14 -0700 (PDT)
Local: Mon, May 12 2008 1:08 am
Subject: Fiksi Bertemu Realitas di Mesir oleh Andre Masloski

Kantor Berita Common Ground
Mitra Kemanusiaan
Bagi Hubungan Muslim-Barat yang Saling Asah, Asih, Asuh

09 - 15 Mei 2008

Jika halaman ini tidak tampil sebagaimana mestinya, klik di sini.

Kantor Berita Common Ground - Mitra Kemanusiaan (CGNews - MK)
bertujuan mendorong perspektif dan dialog konstruktif yang berkaitan
dengan hubungan Muslim-Barat. Layanan ini juga tersedia dalam bahasa
Arab, bahasa Indonesia, bahasa Inggris, bahasa Urdu, dan bahasa
Prancis. Untuk berlangganan, klik di sini.

Untuk arsip artikel CGNews dan informasi lainnya, silahkan kunjungi
website kami: www.commongroundnews.org.

Kecuali jika ditentukan khusus, ijin hak cipta telah diperoleh dan
semua artikel bisa dipublikasikan kembali oleh media massa atau surat
kabar. Silahkan memberitahukan kepada sumber artikel asli dan Kantor
Berita Common Ground (CGNews).

Dalam edisi ini

1) Fiksi Bertemu Realitas di Mesir oleh Andrew Masloski
Dengan mengambil contoh Esra Fattah, seorang perempuan Mesir yang
ditangkap pada bulan April karena mendorong sebuah protes terhadap
lonjakan harga lewat Facebook, Andrew Masloski, asisten peneliti
senior Pusat Kebijakan Timur Tengah Saban di Brookings Institution,
mempertimbangkan peran yang dimainkan forum online ini dalam
perpolitikan Mesir.
(Sumber: Kantor Berita Common Ground (CGNews), 6 Mei 2008)

2) Perjalanan Carter: Untung atau Buntung? oleh Paul Scham
Paul Scham, seorang asisten peneliti pada Institut Timur Tengah,
menganalisis apa arti perjalanan mantan Presiden Jimmy Carter belum
lama ini ke Damaskus bagi proses perdamaian Timur Tengah.
(Sumber: Kantor Berita Common Ground (CGNews), 6 Mei 2008)

3) Sudah Saatnyakah Berunding dengan Iran? oleh Steven Kull
Steven Kull, direktur WorldPublicOpinion.org, sebuah proyek penelitian
internasional yang dikelola oleh Program Sikap Kebijakan
Internasional, University of Maryland, membahas hasil-hasil
mengejutkan dari sebuah jajak pendapat masyarakat di Iran dan Amerika
Serikat, berikut dampak-dampaknya bagi interaksi lebih besar antara
kedua negara.
(Sumber: Kantor Berita Common Ground (CGNews), 6 Mei 2008)

4) Memahami Wilayah-wilayah Kesukuan Pakistan oleh Frankie Martin dan
Hailey Woldt
Lulusan American University, Frankie Martin dan Hailey Woldt,
mahasiswa senior Georgetown University, menyorot kesalahan-persepsi
seputar keistimewaan suku dan etnis Pakistan Barat Laut yang
menghalangi perlawanan terhadap terorisme di wilayah tersebut.
(Sumber: Kantor Berita Common Ground (CGNews), 6 Mei 2008)

5) Sastra Arab Jadi Pusat Perhatian di London oleh Susannah Tarbush
Jurnalis lepas Susannah Tarbush melihat meningkatnya minat Barat
belakangan ini terhadap penulis dan sastra Arab, seperti yang
ditunjukan oleh panel dan acara yang digelar pada London Book Fair
selama tiga hari, pertengahan April lalu.
(Sumber: Qantara.de, 30 April 2008)

1)      Fiksi Bertemu Realitas di Mesir
Andrew Masloski

Washington, DC – Tiga puluh empat tahun lalu, penulis Mesir paling
terkenal, Naguib Mahfouz, menerbitkan sebuah novela berjudul Karnak
Café (Kafe Karnak). Berlatar belakang Mesir pada akhir tahun 1960-an,
novela tersebut menceritakan kisah sekelompok mahasiswa muda idealis
sangat menyadari kesenjangan antara apa yang dicita-citakan sosialisme
pan-Arab Nasser dan kenyataan sehari-hari di Mesir. Mahasiswa-
mahasiswa itu ditahan dan ditakut-takuti karena menyerukan perhatian
terhadap kesenjangan ini, jika tidak dituduh sebagai anggota partai
Komunis, maka anggota Ikhwanul Muslimin.

Dewasa ini, skenario mimpi buruk yang digambarkan Mahfouz tersebut
terancam menjadi kenyataan. Pada tanggal 12 April, pemerintah menahan
seorang perempuan muda Mesir, karena membuat sebuah kelompok di
Facebook (situs web jejaring sosial) yang mendorong warga di kota
industri Mahalla menuntut kenaikan upah.

Nama perempuan Mesir ini adalah Esra Abdel Fattah. Berusia 28 tahun,
cerdas, dan berkesadaran sosial. Ia telah menyaksikan secara langsung
penderitaan yang dirasakan penduduk Mahalla akibat peningkatan harga
bahan-bahan pangan, seperti roti dan minyak goreng.

Bulan Maret lalu ia membuat sebuah kelompok Facebook yang mendorong
orang agar mogok sehari untuk menunjukkan kepada pabrik – juga
pemerintah – sejauh mana rakyat Mesir menderita akibat harga-harga
yang melonjak, sementara upah tidak berubah. Pemogokan tersebut
rencananya dilaksanakan pada tanggal 6 April, tetapi ditekan dengan
penuh kekerasan oleh pemerintah dengan menurunkan sejumlah besar
kekuatan keamanan di jalanan. Enam hari kemudian, Fattah ditahan,
dituduh sebagai otak dibalik rencana kerusuhan.

Pengacara Fattah bersikeras bahwa tuduhan-tuduhan kepadanya tidak
beralasan, namun pengadilan menolak pembelaan tersebut. Harian Mesir
ad-Dustur memberitakan pengakuan Fattah bahwa ia menerima informasi
tentang mogok kerja pada tanggal 6 April tersebut dan hanya membahas
gagasan itu dengan yang lain lewat internet.

Kelompok Facebook yang ia bentuk masih ada dan telah dimutakhirkan,
kemungkinan oleh salah seorang rekan kerja atau teman, untuk
merenungkan berbagai peristiwa yang telah terjadi sejak penangkapan
Fattah. Kelompok tersebut sekarang telah memiliki lebih dari 73.000
anggota, atau sekitar 17 persen dari 440.000 orang yang tergabung
dalam jejaring Mesir di Facebook.

Penangkapan Fattah menjadi penting karena dua alasan. Pertama,
reaksinya terhadap ketidakadilan yang diderita tetangga-tetangganya
sama sekali tak mengandung kekerasan, namun pemerintah memperlakukan
rencana pemogokan tersebut seolah-olah sebuah upaya kudeta berdarah.
Terlepas dari apakah Fattah mendorong orang-orang mogok pada tanggal 6
April atau sekedar membahas gagasan tersebut, tak satupun yang
menunjukkan bahwa ia melakukan hal lebih dari sekedar membantu
penduduk Mahalla hidup bermartabat.

Alasan kedua dan yang lebih penting adalah penangkapan Fattah
menunjukkan bahwa alat yang ia gunakan untuk mengumumkan pemogokan
tersebut sangat efektif. Hanya segelintir orang dari 80 juta warga
Mesir yang akrab dengan Facebook. Namun kelompok onlinenya, yang
menyerukan pemogokan tersebut, dengan cepat menarik perhatian para
pemakai Facebook Mesir – yang sebagian memang para aktivis sejati,
namun sebagian lagi bukan.

Dari sana, berita tentang rencana protes tersebut menyebar begitu
luas, sehingga sebagian besar Kairo tampak tenang pada tanggal 6 April
itu, karena banyak orang yang tinggal di rumah, baik karena
solidaritas maupun takut. Seperti yang telah dilakukan sebelumnya oleh
satelit televisi dan telepon genggam berkamera, maupun SMS, situs-
situs jejaring sosial seperti Facebook telah menyingkap celah dalam
kemampuan pemerintah untuk mencegah warganya berserikat dan
menunjukkan ketidakpuasan mereka secara terbuka.

Penangkapan dan penahanan Fattah mendorong ibunya menerbitkan sebuah
surat terbuka kepada Mubarak pada tanggal 21 April di harian populer
Mesir Al-Masry Al-Yowm yang meminta sang presiden untuk campur tangan
dan membebaskan puterinya. Fattah pun dibebaskan pada tanggal 23
April.

Mimpi buruk yang ditulis Naguib Mahfouz lebih dari tiga dekade lalu
tetap mengancam, meski akhir kisahnya masih kabur. Masih harus dilihat
apakah pemerintah akan terus meniru peran yang ia mainkan dalam novela
Mahfouz, atau apakah rakyat Mesir akan berhasil menuliskan sebuah
akhir berbeda yang lebih baik bagi realitas dan masa depan mereka.

###

* Andrew Masloski adalah asisten peneliti senior Pusat Kebijakan Timur
Tengah Saban di Brookings Institution. Artikel ini ditulis untuk
Kantor Berita Common Ground (CGNews) dan dapat dibaca di www.commongroundnews.org.

Sumber: Kantor Berita Common Ground, 6 Mei 2008, www.commongroundnews.org
Telah memperoleh hak cipta.

2)      Perjalanan Carter: Untung atau Buntung?
Paul Scham

Washington, DC – Tidak jelas hasil-hasil apa yang diperkirakan Jimmy
Carter akan dicapainya setelah pertemuan-pertemuan terakhirnya dengan
para pemimpin Hamas di Timur Tengah. Mengingat pengalaman politiknya,
ia tidak mungkin percaya bahwa perjalanannya ke Damaskus akan begitu
saja berhasil memicu sebuah proses yang akan dengan cepat
mengikutsertakan Hamas dalam perundingan-perundingan perdamaian yang
nyata. Yang lebih mungkin, ia memutuskan bahwa ia berada pada sebuah
posisi unik untuk membawa perhatian Barat terhadap kemungkinan
keterlibatan Hamas, dan menyimpulkan bahwa provokasi merupakan alat
yang paling efektif, seperti yang telah dilakukannya dengan judul
bukunya yang terbit pada tahun 2006, Palestine: Peace Not Apartheid
(Palestina: Damai Bukan Apartheid). Kegemparan terjadi di kedua belah
pihak. Sekarang, ia telah membantu menyediakan sebuah perspektif yang
lebih jelas terhadap ambang batas Hamas saat ini, yang dapat menjadi
landasan penting bagi upaya-upaya keterlibatannya di masa depan.

Dapat dicatat bahwa tidak banyak dari pengecam Carter yang dapat
mengajukan alternatif masuk akal dalam berurusan dengan Hamas. Tak
satu pun yang kelihatannya percaya bahwa Hamas akan lenyap, atau bahwa
aksi militer akan menghancurkan atau menjinakkannya. Pada
kenyataannya, sebagian siap mengakui bahwa cepat atau lambat Israel
akan harus berurusan dengan Hamas–tidak ada pilihan lain. Lalu mengapa
sebagian orang menyerang Carter sedemikian hebatnya?

Alasan sesungguhnya adalah karena ia mematahkan pendapat yang berlaku
dalam konsensus internasional, yang menggolongkan Hamas sebagai sebuah
organisasi teroris; bahwa perjalanannya memberikan Hamas keabsahan
internasional secara de facto. Carter meletakkan sebuah karangan bunga
di pusara Yasser Arafat dan berpelukan di depan umum dengan pemimpin
Hamas, Khaled Meshal, yang memberikan pesan bahwa ia anti-Israel dan
benar-benar mendukung Hamas. Seorang profesor di Harvard, Alan
Dershowitz, juga telah menengarai bahwa uang yang diterima pusat
Carter dari sumber-sumber Arab merupakan pendorong bagi prakarsa-
prakarsa "anti-Israel" tersebut. Namun, para pengecamnya yang ternyata
bejibun tampak hanya dapat mendaur ulang penghinaan-penghinaan yang
hanya didasarkan pada ketidaksukaan terhadap Carter belaka.

Yang lebih penting, sejumlah besar rakyat Israel–termasuk mantan-
mantan kepala kekuatan keamanan–telah mendesak pemerintah untuk
menerima keberadaan Hamas sebagai kenyataan dan menemukan cara untuk
melibatkannya. Dalam sebuah jajak pendapat terakhir, 64 persen
masyarakat Israel menunjukkan kesediaan untuk melibatkan Hamas.
Kelihatannya, hanya di Amerika Serikat yang hampir secara umum
memiliki pendapat negatif.

Kalau begitu, di mana kedudukan kita sekarang dalam kemajuan
perdamaian Timur Tengah?

Sekarang ini kelihatannya sudah menjadi kenyataan yang diterima bahwa
Hamas tidak akan lenyap, tak peduli apa pun yang dilakukan Israel,
Amerika Serikat atau masyarakat internasional. Kepopuleran Hamas
bergantung pada beberapa faktor, termasuk kejijikan bangsa Palestina
terhadap korupsi Fatah, kebangkitan Islam politis di penjuru Timur
Tengah, persepsi (yang sama-sama dimiliki oleh kebanyakan pengamat)
bahwa proses pasca Annapolis tidak akan berhasil, dan sebuah anggapan
umum bangsa Palestina (terlepas dari benar atau salahnya) bahwa Israel
tidak akan pernah rela menerima sebuah negara Palestina berdasarkan
perbatasan tahun 1967.

Selanjutnya, keberhasilan Hamas dalam berbagai konfrontasinya dengan
Fatah, baik secara politis maupun militer, dan meningkatnya
ketidaksabaran internasional terhadap blokade Israel di Jalur Gaza
telah membantu Hamas menciptakan sebuah peran yang tidak dapat
disingkirkan dengan mudah.

Hamas telah memberikan indikasi-indikasi memperlunak tuntutan
tradisionalnya bahwa pengakuan formal atau penerimaan terhadap
kedaulatan Israel adalah sesuatu yang dilarang agama. Ia kelihatannya
bersungguh-sungguh mencoba untuk mengembangkan mekanisme teologis dan
politis yang memungkinkannya berurusan dengan kenyataan yang sangat
kuat dan tak terelakkan, yaitu keberadaan sebuah negara Yahudi.
Sungguh sebuah kemajuan, ditinjau dari konteks saat ini.

Kenyataan yang tidak dapat disangkal adalah bahwa Hamas telah
mengukuhkan "kedaulatan"-nya dengan cara yang dilakukan oleh setiap
kekuatan politik baru: mengumpulkan kekuasaan politik dan militer,
hingga ia tidak mungkin diacuhkan. Sudah bukan saatnya lagi menyangkal
hal ini; pertanyaan bagi Israel, Amerika Serikat, dan Barat adalah
dengan cara apa berhubungan dengannya. Ini bukanlah suatu
Machiavellianisme tak bermoral; ini adalah penerimaan terhadap sebuah
kenyataan.

Ada saat-saat ketika pihak yang berkuasa pun harus menelan pil pahit;
dan inilah salah satunya. Sementara perjalanan Carter terus memancing
pernyataan politis, kenyataan yang ada sedang memperoleh pengakuan.
Pada tanggal 30 April, Mesir mengumumkan bahwa Hamas dan 11 faksi
lebih kecil Palestina telah sepakat untuk menghormati gencatan senjata
enam bulan dengan Israel. Kesepakatan tersebut sekarang hanya mencakup
Gaza, tetapi mungkin meluas hingga Tepi Barat. Kepala Intelijen Mesir,
Omar Suleiman, saat ini sedang mencoba untuk memperoleh persetujuan
Israel.

Jika gencatan senjata ini bertahan, maka peluang-peluang lain besar
kemungkinan akan terbuka, bahkan jika sebuah persetujuan perdamaian
formal belum dapat diraih saat ini. Ada preseden-preseden penting bagi
koeksistensi dengan musuh bebuyutan. Pada tahun 1948, empat tetangga
Israel bersumpah untuk menghancurkannya, tetapi dewasa ini dua telah
menandatangani perjanjian damai dan yang ketiga menegaskan
kesiapannya. Demikian juga, Uni Soviet dan Amerika Serikat (serta para
sekutunya) yang saling berhadapan pada dekade-dekade Perang Dingin,
secara mengejutkan, ternyata menghindari sebuah perang terbuka.

Ketika pembunuhan berhenti, peluang-peluang pun membentang.

###

* Paul Scham adalah seorang asisten peneliti pada Institut Timur
Tengah dan ko-editor buku Shared Histories: A Palestinian-Israeli
Dialogue (Sejarah Bersama: Sebuah Dialog Palestina-Israel). Artikel
ini ditulis untuk Kantor Berita Common Ground (CGNews) dan dapat
dibaca di www.commongroundnews.org.
Pernyataan: Pernyataan dan pendapat dalam tulisan ini tidak serta
merta mencerminkan pandangan Institut Timur Tengah, yang secara
terbuka tidak mengambil sikap apapun menyangkut kebijakan Timur
Tengah.

Sumber: Kantor Berita Common Ground, 6 Mei 2008, www.commongroundnews.org
Telah memperoleh hak cipta.

3)      Sudah Saatnyakah Berunding dengan Iran?
Steven Kull

College Park, Maryland – Sejumlah suara serius berkata bahwa sudah
saatnya bagi pendekatan baru terhadap Iran. Senator Diane Feinstein
dan mantan para pejabat tinggi pemerintah AS telah menyerukan Amerika
Serikat untuk masuk ke dalam perundingan dengan Iran tanpa prasyarat.
Mereka juga mengusulkan gagasan-gagasan untuk mengatasi kebuntuan-
kebuntuan dalam persoalan program nuklir Iran. Dipadu dengan jajak
pendapat baru yang mengisyaratkan bahwa pendapat masyarakat Iran dan
Amerika Serikat menggemakan pandangan-pandangan ini, keadaan tampaknya
telah ranum bagi pembaharuan upaya-upaya memperbaiki hubungan AS-Iran.

Sebuah jajak pendapat oleh WorldPublicOpinion.org yang bermitra dengan
Search for Common Ground pada bulan Februari menemukan bahwa sejumlah
mayoritas besar rakyat Iran (57 persen) menyatakan sebaiknya bangsa
Iran dan Amerika untuk terlibat dalam "pembicaraan langsung tentang
berbagai permasalahan kedua belah pihak", dan 69 persen menyatakan
juga sebaiknya pembicaraan yang memusatkan perhatian pada upaya
penstabilisan situasi di Irak.

Rakyat Iran juga mendukung berbagai langkah perbaikan hubungan Iran-
US, dengan mayoritas besar memilih meningkatkan perdagangan (64
persen), "meningkatkan akses bagi wartawan dari kedua belah pihak" (70
persen), dan " meningkatkan pertukaran kebudayaan, pendidikan, dan
olah raga" (63 persen). Semua angka ini naik tajam dibandingkan
setahun yang lalu.

Walaupun pandangan-pandangan terhadap Amerika Serikat masih cukup
negatif, jajak pendapat itu menemukan tanda-tanda mencairnya sikap
mereka. Mereka yang memiliki pandangan tidak menyenangkan terhadap
Amerika Serikat telah turun dari dua pertiga menjadi setengah. Dan
sejumlah mayoritas yang terus tumbuh (sekarang 64 persen) percaya
bahwa "budaya Muslim dan Barat" dapat "menemukan landasan bersama".

Hasil-hasil ini mungkin terkait dengan penerbitan Penilaian Intelijen
Nasional AS, yang menyimpulkan bahwa Iran saat ini tidak sedang
membangun sebuah program persenjataan nuklir. Beberapa jajak pendapat
menunjukan bahwa bangsa Iran kelihatannya telah menafsirkan ini
sebagai menurunnya ancaman AS untuk menggunakan kekuatan militer
terhadap mereka.

Masyarakat Amerika mempertontonkan kesiapan serupa untuk masuk ke
dalam hubungan yang lebih akrab. Mayoritas besar dalam jajak-jajak
pendapat WorldPublicOpinion.org yang dilakukan oleh Knowledge Networks
menunjukkan dukungan bagi semua langkah yang disebutkan di atas,
dengan 82 persen responden memilih pembicaraan langsung.

Ketika rakyat Amerika ditanya bagaimana Amerika Serikat seharusnya
berhubungan dengan pemerintah Iran, hanya 22 persen yang memilih
"memberi ancaman tidak langsung bahwa Amerika Serikat mungkin
menggunakan kekerasan terhadap mereka" sementara 75 persen memilih
"mencoba membangun hubungan lebih baik."

Tentu saja, isu paling berduri adalah program nuklir Iran, dengan
kemampuannya yang terus meningkat untuk menghasilkan bahan bakar
nuklir yang dapat digunakan sebagai energi nuklir dan, dengan
pengayaan lebih maju, persenjataan nuklir.

Delapan dari 10 responden Iran cukup mantap bahwa Iran seharusnya
memiliki kemampuan menghasilkan bahan bakar nuklir untuk energi
nuklir. Namun, kebanyakan mendorong pemerintah pada posisi bahwa ia
tidak seharusnya menghasilkan persenjataan nuklir. Yang lebih penting,
enam dari 10 orang berkata bahwa menghasilkan persenjataan nuklir
berarti bertentangan dengan Islam – konsisten dengan fatwa atau
pendapat hukum yang telah dikeluarkan oleh sejumlah ulama terkemuka
Iran.

Ini tidak lantas membantah gagasan bahwa sebagian anggota pemerintah
Iran mungkin memiliki keinginan membuat persenjataan seperti itu,
namun mengungkapkan bahwa dalam lingkungan moral dan politik Iran
dewasa ini, sebuah pelarangan terhadap persenajtaan nuklir telah
secara umum terbentuk dan mengubah posisi ini akan cenderung
menghadapi perlawanan masyarakat. Demikian juga, proposal-proposal
yang dipredikatkan atas Iran untuk tidak memiliki persenjataan nuklir,
walaupun masih dapat menghasilkan energi nuklir, mungkin sulit ditolak
begitu saja oleh pemerintah.

Sebuah proposal yang didukung oleh Senator AS Diane Feinstein telah
diajukan oleh para mantan pejabat pemerintah William Luers, Thomas
Pickering, dan Jim Walsh. Proposal ini menyerukan sebuah fasilitas
pengayaan multi-nasional di dalam Iran di bawah pengawasan ekstensif
internasional, dan memberikan Iran kemampuan untuk menghasilkan bahan
bakar nuklir bagi energi tetapi bukan untuk persenjataan nuklir.

Para responden Iran dalam jajak pendapat ini disodori sebuah
kemungkinan kesepakatan bahwa Iran akan memiliki sebuah hak yang
terbatas untuk menghasilkan bahan bakar nuklir selama IAEA memiliki
akses penuh dan permanen untuk memastikan bahwa Iran tidak
menghasilkan persenjataan nuklir. Lima puluh delapan persen berkata
mereka mendukung kesepakatan semacam itu, hanya 26 persen yang
menentang.

Kesepakatan seperti itu juga didukung oleh rakyat Amerika dan lainnya
dalam sebuah jajak pendapat BBC World Service di 31 negara, yang
dilaksanakan oleh GlobeScan dan PIPA. Kesepakatan tersebut didukung
oleh 55 persen rakyat Amerika, 71 persen rakyat Inggris, 56 persen
rakyat Prancis, dan sebagian mayoritas bangsa-bangsa lain yang
dijajak. Jajak pendapat BBC juga menemukan bahwa pilihan-pilihan yang
lebih keras dalam berhubungan dengan Iran, seperti sanksi-sanksi
ekonomi atau serangan militer, memperoleh tingkat dukungan yang sangat
rendah.

Pemerintahan George W. Bush hanya memiliki sisa waktu sedikit dan
menghadapi penolakan luas terhadap kebijakan luar negerinya. Sebuah
pendekatan baru terhadap tantangan Iran mungkin merupakan satu dari
pilihan terakhir dan terbaik bagi pemerintah tersebut untuk menopang
warisannya di tanah air dan luar negeri dengan memberi sumbangan bagi
sebuah dunia yang lebih stabil.

###

* Steven Kull adalah direktur WorldPublicOpinion.org, sebuah proyek
penelitian internasional yang dikelola oleh Program Sikap Kebijakan
Internasional, University of Maryland. Artikel ini ditulis untuk
Kantor Berita Common Ground (CGNews) dan dapat dibaca di www.commongroundnews.org.

Sumber: Kantor Berita Common Ground, 6 Mei 2008, www.commongroundnews.org
Telah memperoleh hak cipta.

4)      Memahami Wilayah-wilayah Kesukuan Pakistan
Frankie Martin dan Hailey Woldt

Washington, DC – Sumpah pemerintahan koalisi baru Pakistan untuk
memulai dialog dengan militan telah menarik perhatian banyak orang.
Washington khawatir, pemerintahan baru yang dipimpin oleh Nawaz Syarif
dan suami almarhumah Benazir Bhutto, Asif Ali Zardari tampaknya
memiliki perspektif yang berbeda dalam melawan terorisme. Inilah
alasan mengapa kita harus memberi perhatian.

Sekarang ini kita berada dalam kekacauan militer dan budaya yang
mendatangkan malapetaka di Waziristan, wilayah kesukuan Pakistan Barat
Daya yang rawan. Tuntutan Amerika kepada militer Pakistan untuk
menggunakan kekuatan yang lebih besar di area tersebut sejauh ini
tidak berhasil, meskipun Presiden Pervez Musharraf memenuhi permintaan
itu. Pengeboman bunuh diri terjadi di luar kendali dan kekerasan telah
menyebar dari wilayah kesukuan ke kota-kota seperti lahore dan
Islamabad.

Hasil yang menyedihkan tersebut ditafsirkan sebagai refleksi dari
kelembutan tindakan itu, tapi sebenarnya pendekatannyalah yang harus
disalahkan.

Para pembuat kebijakan di Washington mengatakan bahwa kita harus
memilih antara menyerah atau menangkan “pertempuran” di wilayah-
wilayah kesukuan. Dengan menyerah, Taliban akan membentuk kekhalifahan
baru, dan dengan memenangkan ”pertempuran”, seluruh negara itu akan
jadi puing besar dengan Osama bin Laden terkubur di suatu tempat di
dalamnya.

Namun ini adalah dikotomi salah yang diciptakan oleh ketidakmampuan
belajar dari pengalaman masa lalu atau melakukan analisa budaya yang
sederhana.

Wilayah-wilayah kesukuan di Pakistan, yang didiami oleh etnik Pashtun,
telah amat disalahpahami oleh Barat, bahkan oleh berbagai kelompok
urban Pakistan selama bertahun-tahun. Sedikit yang memahami bahwa
Taliban adalah kelompok yang amat baru dalam sejarah wilayah tersebut,
dan ia dilihat sebagai entitas yang terlalu berkuasa dan tidak
disambut dalam budaya tradisional lokal.

Secara historis, para pemimpin keagamaan diawasi oleh para kepala suku
dan pejabat pemerintah, tapi setelah 9/11 sistem yang sudah runtuh ini
berurusan dengan jurus maut terakhir Musharraf dan AS yang berbentuk
pengeboman tiada henti. Sebagai konsekuensinya, pemerintah layanan
masyarakat lama yang ada di Waziristan menghilang—dibongkar oleh
Musharraf yang mendukung tentara – dan kepemimpinan suku tradisional
pun berhenti.

Mullah Taliban telah mengisi kekosongan, memanfaatkan pidato mereka
yang berapi-api untuk membangkitkan semangat masyarakat yang telah
kehilangan keyakinan bahwa pemerintah Pakistan akan memahami masalah
mereka.

AS juga telah membantu memicu hal tersebut dengan mendukung pemerintah
yang dijalankan oleh non-Pashtun di Pakistan dan Afghanistan.
Masyarakat suku Pashtun merasa dikepung dari berbagai bidang – hingga
mereka berpikir bahwa mereka diserang hanya karena etnisitas mereka.
Karena mereka Muslim, mereka juga merasa Islam sedang diserang dan
berusaha untuk mempertahankannya.

Masalah diperparah dengan kebingungan kita dalam menamai musuh. Saat
ini garis definisi antara masyarakat suku Pashtun, Taliban, dan Al
Qaeda tetap kabur.

AS dan sekutunya berada dalam masalah besar. Dengan setiap hari
berlalu tanpa memahami posisi kesukuan dan apa yang mereka
perjuangkan, tujuan menangkap bin Laden dan mengamankan perbatasan
dengan Afghanistan jadi semakin sulit.

Ini tidak berarti “menenangkan” mereka yang berusaha mengganggu
Amerika tapi malah “mengaturnya” secara lebih efektif. Ini berarti
menggabungkan ancaman kekuatan dengan upaya meraih kepercayaan dari
suku, menjangkau mereka serta bekerja dalam kerangka budaya dan agama
mereka. Situasi ini juga bisa meningkat pesat jika sejumlah besar
bantuan Amerika didedikasikan untuk pendidikan dan pengembangan, bukan
pengeluaran militer sia-sia yang telah menghabiskan lebih dari 10
milyar dolar AS sejak 9/11.

Sejarah menunjukkan bahwa memimpin wilayah-wilayah kesukuan terbukti
mustahil–baik untuk Inggris maupun Pakistan–ketika metode ini tidak
diikuti. Pendekatan ini juga harus diterapkan pada masyarakat kesukuan
lainnya di mana AS terlibat, dari Afghanistan dan Irak hingga Somalia.

Jika tindakan baru tidak diambil, AS akan terus meluncur menuju
malapetaka. Mengebom masyarakat suku Muslim tanpa henti tanpa memahami
siapa yang sebenarnya kita serang dan mengapa, bukanlah “realisme”,
tapi kebijakan buruk.

‘Penyerbuan’ hebat terhadap musuh-musuhnya telah menghancurkan
reputasi global AS, dan jika dilanjutkan, dapat menghancurkan masa
depan kita sendiri. Karena pemuda Amerika peduli terhadap masa depan,
kita tak bisa membiarkan kebijakan gagal ini terus merusak abad yang
akan datang.

###

* Frankie Martin adalah lulusan American University dan asisten riset
di School of International Service dari universitas tersebut. Hailey
Woldt adalah mahasiswa senior Georgetown University. Keduanya
melakukan kerja lapangan untuk buku Journey into Islam: The Crisis of
Globalization oleh Akbar Ahmed (Brookings, 2007). Artikel ini ditulis
untuk Kantor Berita Common Ground (CGNews) dan bisa dibaca di
www.commongroundnews.org.

Sumber: Kantor Berita Common Ground, 6 Mei 2008, www.commongroundnews.org
Telah memperoleh hak cipta.

5)      Sastra Arab Jadi Pusat Perhatian di London
Susannah Tarbush

Bonn, Jerman – Ketika penulis novel Mesir Naguib Mahfouz pada 1988
menjadi penulis Arab pertama (dan satu-satunya, sejauh ini) yang
memenangkam Hadiah Nobel Sastra di Barat, muncul harapan bahwa sastra
Arab akan menembus dunia Barat, termasuk Inggris. Tapi selama bertahun-
tahun semua itu tetaplah mimpi.

Benar, beberapa penulis Arab mencapai sukses dalam penerjemahan ke
Bahasa Inggris, tapi itu tak dapat dibandingkan dengan percintaan para
pembaca Inggris dengan, katakanlah, realisme magis Amerika Latin,
literatur Rusia dan Eropa Timur, serta novel-novel karya penulis asal
India.

Kini gambaran mengenai publikasi literatur Arab di Inggris berubah
secara dramatis. Ini dibuktikan pada London Book Fair (LBF) yang
dilangsungkan selama tiga hari, dari 14-16 April lalu dan memilih
dunia Arab sebagai fokus pasarnya.

Sekitar 100 penerbit dan institusi budaya Arab berpameran di acara
tersebut. Tambahan lagi, LBF, bersama dengan British Council, membuat
program seminar yang panelisnya termasuk 60 penulis, penerbit, dan
cendekiawan Arab, kebanyakan diundang dari luar negeri.

Penawaran lainnya termasuk "Breakfast with Bahaa Taher" di English PEN
Literary Café, yang di sana jurnalis Maya Jaggi mewawancarai veteran
novelis Mesir yang belakangan ini jadi pemenang pertama International
Prize for Arabic Fiction (IPAF) untuk karyanya Sunset Oasis.

IPAF, yang total hadiahnya 60.000 dolar, didanai oleh Emirates
Foundation of Abu Dhabi dan diinagurasikan bersama dengan Booker Prize
Foundation. LBF dan British Council membawa enam penulis untuk IPAF ke
pameran tersebut. IPAF memberikan dorongan segar untuk penerjemahan,
karena jaminan penerjemahan buku yang menang ke bahasa Inggris.

Selain menerjemahkan dari bahasa Arab, LBF membawa dua proyek ambisius
penerjemahan buku ke bahasa Arab di Uni Emirat Arab. Kalima, sebuah
inisiatif Departemen Kebudayaan dan Warisan Budaya Abu Dhabi, berniat
menerjemahkan 100 volume setahun. Program Tarjem dari Mohammad Bin
Rashid Al-Maktoum Foundation di Dubai bermaksud menerjemahkan 1000
karya terlaris ke bahasa Arab selama tiga tahun.

Di LBF, kehadiran novelis Mesir (dan dokter gigi) Alaa Al-Aswany,
membangkitkan minat yang besar. Al-Aswany telah menikmati kesuksesan
di dunia Arab dan sekitarnya dengan novelnya The Yacoubian Building
dan film yang dibuat berdasarkan novel tersebut. Dia “penulis hari
ini” pada hari kedua pameran tersebut. Publikasi terjemahan bahasa
Inggris novel kedua Al-Aswany pada bulan September amat dinantikan.

Al-Aswany belajar kedokteran gigi di Illinois University, Chicago,
sama dengan Saudi Raja Alsanea, novelis Arab terlaris yang menarik
banyak perhatian di LBF. Novel pertamanya, Girls of Riyadh mendapat
sukses dengan mudah di Arab, dan telah diterjemahkan ke 23 bahasa.
Edisi bahasa Inggris bersampul tipis akan diterbitkan oleh Penguin
pada bulan Juni. Para penerbit, baik Arab maupun Barat, menantikan
karya berikutnya dari Al-Aswany dan Alsanea.

Margaret Obank, editor majalah sastra Arab modern, Banipal, mencatat:
“Kini makin banyak penerbit UK yang menerbitkan terjemahan karya
penulis Arab, ditambah satu lagi yang baru, Arabia Books, didirikan
bersama oleh Arcadia Books dan Haus Publishing untuk fokus secara
khusus pada karya-karya fiksi dunia Arab, dengan perhatian khusus pada
daftar panjang American University of Cairo (AUC) Press.”

Salah satu alasan pertumbuhan penerjemahan literatur Arab adalah
diluncurkannya Banipal sepuluh tahun lalu. Banipal telah membuat
cabang untuk menerbitkan fiksi terjemahan, dan membuat Saif Ghobash-
Banipal prize untuk Terjemahan Sastra Arab. Proyek terbarunya adalah
membuat perpustakaan sastra Arab modern di London bersama Arab-British
Centre.

Indikasi menyolok akan meningkatnya sastra Arab secara global adalah
hadiah literatur internasional terbesar dan paling komprehensif, yakni
International IMPAC Dublin Literary Award, memiliki tak kurang dari
tiga novel karya penulis Arab dalam daftar 8 novel pemenang yang baru-
baru ini diumumkan. Hadiahnya, senilai 100.000 Euro, terbuka untuk
novel-novel yang ditulis, atau diterjemahkan ke bahasa Inggris.

Salah satu novel tersebut, De Niro's Game, karya Rawi Hage, campuran
Kanada-Lebanon, ditulis dalam bahasa Inggris. The Attack, karya
Yasmina Khadra (nama pena mantan tentara Aljajair, Mohammed
Moulessehoul), diterjemahkan dari bahasa Prancis, sementara penulis
Palestina, Sayed Kashua, yang tinggal di Israel, menulis Let it be
Morning dalam bahasa Yahudi. Semua ini menunjukkan betapa kaya dan
beragamnya sastra Arab modern.

###

* Claudia Isabel adalah jurnalis lepas. Artikel ini disebarluaskan
oleh Kantor Berita Common Ground (CGNews) dan bisa dibaca di
www.commongroundnews.org.

Sumber: Qantara.de, 30 April 2008, www.qantara.de
Telah memperoleh hak cipta.

Pandangan Kaum Muda

CGNews-MK juga secara berkala mempublikasikan tulisan-tulisan para
mahasiswa jurnalis yang memperkuat pemahaman antar budaya dan
mendorong perspektif dan dialog konstruktif di lingkungan mereka
sendiri. Mahasiswa jurnalis dan para penulis di bawah usia 27 tahun
dianjurkan untuk menulis kepada Nancy Batakji (nancybata...@gmail.com)
untuk informasi lebih lanjut tentang pengiriman tulisan.

Tentang CGNews-MK

Kantor Berita Common Ground - Mitra Kemanusiaan (CGNews-MK)
mempublikasikan berita, opini, feature dan analisis oleh para ahli
baik lokal maupun internasional mengenai berbagai masalah yang
berkaitan dengan hubungan Muslim-Barat. CGNews-MK mengumpulkan artikel-
artikel yang berimbang dan berorientasi-solusi dari media massa di
seluruh dunia. Dengan dukungan dari pemerintah Inggris, Norwegia dan
Amerika Serikat, United States Institute of Peace, serta para donatur
pribadi, layanan ini merupakan inisiatif nir-laba dari Search for
Common Ground, sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) internasional
yang bergerak di bidang transformasi konflik.

Layanan ini merupakan salah satu hasil dari serangkaian pertemuan
kerja yang diadakan dengan kemitraan bersama Pangeran HRH El Hassan
bin Talal di Jordania, pada bulan Juni 2003.

Kantor Berita Common Ground juga membuat dan menyebarluaskan artikel-
artikel berorientasi-penyelesaian masalah yang ditulis oleh para ahli
baik lokal maupun internasional demi memajukan perspektif yang
membangun dan mendorong dialog mengenai masalah-masalah Timur Tengah
dewasa ini. Layanan ini, Kantor Berita Common Ground - Timur Tengah
(CGNews-TT), juga tersedia dalam bahasa Arab, bahasa Inggris dan
bahasa Hebrew. Untuk berlangganan, klik di sini.

Pandangan yang disampaikan dalam artikel-artikel ini merupakan
pandangan para pengarangnya, dan bukan pandangan CGNews-MK atau
afiliasinya.

Kantor Berita Common Ground
1601 Connecticut Avenue, NW Suite #200
Washington, DC 20009 USA
Ph: +1(202) 265-4300
Fax: +1(202) 232-6718

Rue Belliard 205 Bte 13 B-1040
Brussels, Belgia
Ph: +32(02) 736-7262
Fax: +32(02) 732-3033

Email : cgnews...@sfcg.org
Website : www.commongroundnews.org

Editor
Leena El-Ali (Washington)
Juliette Schmidt (Canada)
Diya Agha (Washington)
Emmanuelle Hazan (Geneva)
Nuruddin Asyhadie (Jakarta)
Andrew Kessinger (Washington)
Mahmoud Zawawi (Amman)
Rashad Bukhari (Islamabad)

Penerjemah
Françoise Globa (Geneva)
Rio Rinaldo (Jakarta)
Azmi Tubbeh (Washington)
Amer Khan (Islamabad)

CGNews adalah kantor berita nir-laba.
Anda saat ini terdaftar sebagai %%emailaddr%%
Untuk keluar dari layanan ini, klik disini.


    Reply    Reply to author    Forward  
You must Sign in before you can post messages.
To post a message you must first join this group.
Please update your nickname on the subscription settings page before posting.
You do not have the permission required to post.
End of messages
« Back to Discussions « Newer topic     Older topic »

Create a group - Google Groups - Google Home - Terms of Service - Privacy Policy
©2008 Google