Dalil petunjuknya adalah sesungguhnya Allah Swt telah menjelaskan di sini, bahwa orang yang tidak patuh terhadap Rasulullah , dan sebaliknya, berpaling dari hukumnya, itu termasuk golongan orang-orang munafik, dan dia bukanlah seorang yang beriman. Allah S
Subject: Dalil petunjuknya adalah sesungguhnya Allah Swt telah menjelaskan di sini, bahwa orang yang tidak patuh terhadap Rasulullah , dan sebaliknya, berpaling dari hukumnya, itu termasuk golongan orang-orang munafik, dan dia bukanlah seorang yang beriman. Allah S
Dalil petunjuknya adalah sesungguhnya Allah Swt telah menjelaskan di sini, bahwa orang yang tidak patuh terhadap Rasulullah , dan sebaliknya, berpaling dari hukumnya, itu termasuk golongan orang-orang munafik, dan dia bukanlah seorang yang beriman. Allah Swt juga menjelaskan, bahwa seorang yang beriman adalah orang yang mengucapkan, "Kami mendengar dan kami patuh." Jika kemunafikan bisa muncul, dan sebaliknya, keimanan bisa hilang dengan hanya berpaling dari hukum Rasulullah dan dengan menghendaki untuk berhukum kepada selainnya, padahal yang demikian ini hanya berupa pengabaian semata, dan terkadang disebabkan oleh kuatnya hawa nafsu, lalu bagaimana dengan hukum mencela Nabi , mencacinya dan yang sejenisnya?
Hal itu diperkuat oleh riwayat yang menyebutkan bahwa dua orang lelaki yang saling bertikai menghadap kepada Nabi- 5.5 Di-takhrij oleh Imam Suyuthi di dalam ad-Durr al-Mantsuur, (2/180), dan beliau menyandarkannya kepada Abu Hatim ar-Razi dan Ibnu Mardawaih. Ibnu Katsir di dalam Tafsir-nya (1/351) berkata, hadits ini telah diriwayatkan oleh Ibnu Abi Mardawaih dari jalur Ibnu Abi Lahi'ah, dan riwayat ini merupakan sebuah atsar yang gharib lagi mursal. Sedangkan Ibnu Abi Lahi'ah sendiri dinyatakan lemah (dha'if)., - lalu beliau memutuskan pihak yang benar atas pihak yang salah. Kemudian, pihak yang dikalahkan tersebut mengatakan ketidakpuasannya. Lalu rivalnya pun berkata, "Apa sebenamya yang kamu inginkan?!" Dia pun menjawab, "Hendaknya kita pergi ke Abu Bakar ash-Shiddiq." Maka, pergilah keduanya kepada Abu Bakar ash-Shiddiq, lalu pihak yang dimenangkan itu pun bercerita kepadanya, "Kami membawa pertikaian kami ke hadapan Nabi , lalu beliau memenangkan saya atas dia." Lalu Abu Bakar pun berkata, "Kalian harus menerima apa yang telah diputuskan oleh Nabi " Akan tetapi, pihak yang dikalahkan tetap saja tidak merasa puas dan berkata, "Kite mesti mendatangi Umar bin Khattab." Lalu, pihak yang menang itu pun bercerita lagi, "Kami telah membawa pertikaian di antara kami kepada Nabi , lalu beliau memenangkan saya atas dia. Namun, dia ini tidak mau menerima putusannya. Lalu, kami pun mendatangi Abu Bakar ash-Shiddiq dan beliau berkata, 'Kalian harus menerima apa yang telah diputuskan Nabi ,' tapi dia masih bersikeras untuk tidak mau terima." Lalu Umar pun bertanya kepada orang yang tidak puas tadi dan dia pun menjawabnya. Selanjutnya, Umar masuk ke dalam rumah untuk kemudian keluar dengan menghunus sebilah pedang, lalu menghujamkannya ke arah kepala orang yang tidak mau menerima putusan Nabi tersebut. Sehingga, akhimya Allah Swt menurunkan ayat: "Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya." (an-Nisa: 65) Hukum riwayat ini mursal, namun dikuatkan oleh riwayat lain dari jalur berbeda yang cukup layak untuk digunakan sebagai petunjuk.
Dalil Keenam: Petunjuk dari berbagai ayat dalam al-Quran yang menyatakan bahwa orang yang telah menyakiti Rasulullah berarti dia juga telah menyakiti Allah. Dan, hal itu - tanpa diperdebatkan lagi - merupakan bentuk kekufuran.
Allah Swt berfirman:
"Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya. Allah akan melaknatinya di dunia dan di akhirat, dan menyediakan baginya siksa yang menghinakan. Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata." (al-Ahzab: 57-5
Adapun petunjuknya bisa dilihat dari beberapa aspek. Di antaranya:
Pertama. Allah Swt di dalam ayat ini telah menyertai penentangan terhadap Nabi dengan siksaan-Nya, sebagaimana Dia telah menyertakan ketaatan kepadanya (Nabi) dengan ketataan kepada-Nya. Jadi, barangsiapa yang telah menyakiti Nabi , berarti dia telah menyakiti Allah Swt , dan hal itu telah ditetapkan di dalam ayat ini. Lalu, barangsiapa yang telah menyakiti Allah Swt , berarti dia seorang kafir yang halal darahnya. Hal itu diperjelas lagi bahwasanya Allah Swt telah menjadikan kecintaan kepada-Nya dan Rasul-Nya, juga mencari ridha-Nya dan Rasul-Nya, serta menaati-Nya dan Rasul-Nya sebagai sesuatu yang tunggal. Allah Swt telah berfirman:
"Katakanlah, "Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluarga, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan / keputusan-Nya." Dan Allah tidak member/ petunjuk kepada orang-orang yang fasik." (at-Taubah: 24)
Dalam beberapa tempat yang berbeda, Allah Swt berfirman, di antaranya:
"Dan ta'atilah Allah dan Rasul, supaya kamu diberi rahmat" (Ali Imran: 132)
"Padahal Allah dan Rasul-Nya yang lebih patut mereka cari keridhaannya jika mereka adalah orang-orang yang mukmin." (at-Taubah: 62) Lalu Allah Swt - dengan cara menunggalkan dhamir (kata ganti)nya-juga telah berfirman:
Begitu pula, Allah Swt telah menjadikan permusuhan terhadap Allah Swt dan Rasul-Nya, juga penentangan terhadap-Nya dan Rasul-Nya, dan kedurhaka-an terhadap-Nya dan Rasul-Nya sebagai sesuatu yang tunggal. Allah Swt telah berfirman: "(Ketentuan) yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka menentang Allah dan Rasul-Nya, dan barangsiapa menentang Allah dan Rasul-Nya. (al-Anfat: 13) "Sesungguhnya orang-orang yang menentang Allah Swt dan Rasul-Nya, mereka termasuk orang-orang yang sangat hina. " (al-Mujadalah: 20) "Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah Swt dan rasul-Nya." (an-Nisa: 14)
begin 666 icon_cool.gif M1TE&.#EA#P`/`+,-`/_J`$5%10```/_.`/_)`/Z=`/^T`/_^D__]$___Q___ M___E`/__ZP```````````"'Y! $```T`+ `````/``\```19L$D9:IVX59;. M&1<6< @"G$,13$%GGG"Z:L<+QVLK[#O [ZK @:<0^'9%0^5P-)YX!&7 =H-% E*X/J;4%0:;).F( `H@P&B]]8QCH3WF^V*&"H&X(9EF4VB0``.P`` ` end
> Dalil petunjuknya adalah sesungguhnya Allah Swt telah menjelaskan di sini, > bahwa orang yang tidak patuh terhadap Rasulullah , dan sebaliknya, berpaling > dari hukumnya, itu termasuk golongan orang-orang munafik, dan dia bukanlah > seorang yang beriman. Allah Swt juga menjelaskan, bahwa seorang yang beriman > adalah orang yang mengucapkan, "Kami mendengar dan kami patuh." Jika > kemunafikan bisa muncul, dan sebaliknya, keimanan bisa hilang dengan hanya > berpaling dari hukum Rasulullah dan dengan menghendaki untuk berhukum kepada > selainnya, padahal yang demikian ini hanya berupa pengabaian semata, dan > terkadang disebabkan oleh kuatnya hawa nafsu, lalu bagaimana dengan hukum > mencela Nabi , mencacinya dan yang sejenisnya?
> Hal itu diperkuat oleh riwayat yang menyebutkan bahwa dua orang lelaki yang > saling bertikai menghadap kepada Nabi- 5.5 Di-takhrij oleh Imam Suyuthi di > dalam ad-Durr al-Mantsuur, (2/180), dan beliau menyandarkannya kepada Abu > Hatim ar-Razi dan Ibnu Mardawaih. Ibnu Katsir di dalam Tafsir-nya (1/351) > berkata, hadits ini telah diriwayatkan oleh Ibnu Abi Mardawaih dari jalur > Ibnu Abi Lahi'ah, dan riwayat ini merupakan sebuah atsar yang gharib lagi > mursal. Sedangkan Ibnu Abi Lahi'ah sendiri dinyatakan lemah (dha'if)., - > lalu beliau memutuskan pihak yang benar atas pihak yang salah. Kemudian, > pihak yang dikalahkan tersebut mengatakan ketidakpuasannya. > Lalu rivalnya pun berkata, "Apa sebenamya yang kamu inginkan?!" Dia pun > menjawab, "Hendaknya kita pergi ke Abu Bakar ash-Shiddiq." Maka, pergilah > keduanya kepada Abu Bakar ash-Shiddiq, lalu pihak yang dimenangkan itu pun > bercerita kepadanya, "Kami membawa pertikaian kami ke hadapan Nabi , lalu > beliau memenangkan saya atas dia." Lalu Abu Bakar pun berkata, "Kalian harus > menerima apa yang telah diputuskan oleh Nabi " Akan tetapi, pihak yang > dikalahkan tetap saja tidak merasa puas dan berkata, "Kite mesti mendatangi > Umar bin Khattab." > Lalu, pihak yang menang itu pun bercerita lagi, "Kami telah membawa > pertikaian di antara kami kepada Nabi , lalu beliau memenangkan saya atas > dia. Namun, dia ini tidak mau menerima putusannya. Lalu, kami pun mendatangi > Abu Bakar ash-Shiddiq dan beliau berkata, 'Kalian harus menerima apa yang > telah diputuskan Nabi ,' tapi dia masih bersikeras untuk tidak mau terima." > Lalu Umar pun bertanya kepada orang yang tidak puas tadi dan dia pun > menjawabnya. > Selanjutnya, Umar masuk ke dalam rumah untuk kemudian keluar dengan > menghunus sebilah pedang, lalu menghujamkannya ke arah kepala orang yang > tidak mau menerima putusan Nabi tersebut. Sehingga, akhimya Allah Swt > menurunkan ayat: > "Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka > menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian > mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu > berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya." (an-Nisa: 65) > Hukum riwayat ini mursal, namun dikuatkan oleh riwayat lain dari jalur > berbeda yang cukup layak untuk digunakan sebagai petunjuk.
> Dalil Keenam: > Petunjuk dari berbagai ayat dalam al-Quran yang menyatakan bahwa orang yang > telah menyakiti Rasulullah berarti dia juga telah menyakiti Allah. Dan, hal > itu - tanpa diperdebatkan lagi - merupakan bentuk kekufuran.
> Allah Swt berfirman:
> "Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya. Allah akan > melaknatinya di dunia dan di akhirat, dan menyediakan baginya siksa yang > menghinakan. Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mukmin dan mukminat > tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul > kebohongan dan dosa yang nyata." (al-Ahzab: 57-5
> Adapun petunjuknya bisa dilihat dari beberapa aspek. Di antaranya:
> Pertama. Allah Swt di dalam ayat ini telah menyertai penentangan terhadap > Nabi dengan siksaan-Nya, sebagaimana Dia telah menyertakan ketaatan > kepadanya (Nabi) dengan ketataan kepada-Nya. Jadi, barangsiapa yang telah > menyakiti Nabi , berarti dia telah menyakiti Allah Swt , dan hal itu telah > ditetapkan di dalam ayat ini. Lalu, barangsiapa yang telah menyakiti Allah > Swt , berarti dia seorang kafir yang halal darahnya. > Hal itu diperjelas lagi bahwasanya Allah Swt telah menjadikan kecintaan > kepada-Nya dan Rasul-Nya, juga mencari ridha-Nya dan Rasul-Nya, serta > menaati-Nya dan Rasul-Nya sebagai sesuatu yang tunggal. Allah Swt telah > berfirman:
> "Katakanlah, "Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, > kaum keluarga, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu > khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai adalah > lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di > jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan / keputusan-Nya." Dan > Allah tidak member/ petunjuk kepada orang-orang yang fasik." (at-Taubah: 24)
> Dalam beberapa tempat yang berbeda, Allah Swt berfirman, di antaranya:
> "Dan ta'atilah Allah dan Rasul, supaya kamu diberi rahmat" (Ali Imran: 132)
> "Padahal Allah dan Rasul-Nya yang lebih patut mereka cari keridhaannya jika > mereka adalah orang-orang yang mukmin." (at-Taubah: 62) > Lalu Allah Swt - dengan cara menunggalkan dhamir (kata ganti)nya-juga telah > berfirman:
> Begitu pula, Allah Swt telah menjadikan permusuhan terhadap Allah Swt dan > Rasul-Nya, juga penentangan terhadap-Nya dan Rasul-Nya, dan kedurhaka-an > terhadap-Nya dan Rasul-Nya sebagai sesuatu yang tunggal. Allah Swt telah > berfirman: > "(Ketentuan) yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka menentang > Allah dan Rasul-Nya, dan barangsiapa menentang Allah dan Rasul-Nya. > (al-Anfat: 13) > "Sesungguhnya orang-orang yang menentang Allah Swt dan Rasul-Nya, mereka > termasuk orang-orang yang sangat hina. " (al-Mujadalah: 20) > "Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah Swt dan rasul-Nya." (an-Nisa: 14)