Syahdan di satu negeri Antah Berantah ada satu pemilihan pemimpin.
Seluruh rakyat negeri itu harus memilih. Meski katanya “Bebas dan
Rahasia”, namun satu pejabat partai memerintahkan seluruh kadernya
untuk memilih calon bernama Fulan dan wakilnya sebagai pemimpin.
Sebagian kader pun “Mendengar dan Mentaati.”
Alkisah ada satu kader yang menolak. Alasannya:
“Tapi kan Fulan membiarkan kekayaan alam kita dijarah oleh musuh
Islam. Anggaran militer musuh Islam itu sampai US$ 655 Milyar/tahun
atau Rp 6.550 Trilyun/tahun sehingga bisa membantai ummat Islam di
Iraq dan Afghanistan. Sebagian dana itu dari kekayaan alam kita.
Bukankah menurut surat Al Fath ayat 29: “Muhammad itu adalah utusan
Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap
orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka...”?
“Tapi kan wakilnya belum naik haji meski sudah tua, kaya, dan sehat.
Bukankah menurut Islam jika tidak mengerjakan haji padahal mampu itu
adalah dosa?
Bukankah orang yang meninggal tapi tidak naik haji padahal dia mampu
itu menurut Nabi mati di atas kemunafikan?
Bukankah di surat At Taubah ayat 23 dikatakan: “Hai orang-orang
beriman, janganlah kamu jadikan bapa-bapa dan saudara-saudaramu
menjadi wali/pemimpin, jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas
keimanan dan siapa di antara kamu yang menjadikan mereka wali, maka
mereka itulah orang-orang yang zalim.”?
“Wah kalau kamu masih mengikuti Al Qur’an dan membangkang kepadaku,
berarti kamu belum percaya kepadaku. Kamu tidak taat kepadaku,” begitu
kata si pemimpin partai.
“Kita pilih Fulan karena Fulan paling besar kesempatannya untuk
menang. Kita bisa ikut berkuasa meski cuma jadi pembantu.” Tambah si
pemimpin.
Sang kader yang “mbalelo” masih menolak.
“Tapi mendukung pemimpin yang zhalim bukan cara Islam. Nabi Ibrahim
berani melawan raja Namrudz yang zalim. Nabi Muda menentang raja
Fir’aun yang berkuasa. Dan Nabi Muhammad tak mau berkolaborasi dengan
pemimpin Quraisy Abu Sofyan yang kafir. Selama kita berjuang di jalan
Allah, yang ada hanya kemenangan atau mati syahid”
Namun kader yang lain “Sami’na wa atho’na”. Katanya:
“Apa pun yang pemimpin katakan kepada kami akan kami taati. Kami
dengar dan kami tunduk. Bahkan jika pemimpin menyuruh kami untuk
memilih Iblis jadi pemimpin, kami akan memilihnya.” Kata sang kader
yang taat.
Tidak dijelaskan lebih jauh nama-nama pelaku di negara Antah Berantah
tersebut. Namun hendaknya kita mempelajari hikmahnya.
Ka'ab bin 'Iyadh Ra bertanya, "Ya Rasulullah, apabila seorang
mencintai kaumnya, apakah itu tergolong fanatisme?" Nabi Saw menjawab,
"Tidak, fanatisme (Ashabiyah) ialah bila seorang mendukung (membantu)
kaumnya atas suatu kezaliman." (HR. Ahmad)
Yang harus kita ikuti adalah Allah. Bukan pemimpin yang menyimpang
dari firman Allah (Al Qur’an):
“Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu
mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya (yang tidak menjalankan Al
Qur’an dan Hadits) [Al A’raaf:3]
Mengikuti pemimpin yang sesat akan menyeret kita ke neraka:
“Allah berfirman: "Masuklah kamu sekalian ke dalam neraka bersama umat-
umat jin dan manusia yang telah terdahulu sebelum kamu. Setiap suatu
umat masuk ke dalam neraka, dia mengutuk pemimpinnya yang
menyesatkannya; sehingga apabila mereka masuk semuanya berkatalah
orang-orang yang masuk kemudian di antara mereka kepada orang-orang
yang masuk terdahulu: "Ya Tuhan kami, mereka telah menyesatkan kami,
sebab itu datangkanlah kepada mereka siksaan yang berlipat ganda dari
neraka." Allah berfirman: "Masing-masing mendapat siksaan yang
berlipat ganda, akan tetapi kamu tidak mengetahui." [Al A’raaf:38]
“Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikan dalam neraka, mereka
berkata: "Alangkah baiknya, andaikata kami taat kepada Allah dan taat
kepada Rasul."
Dan mereka berkata;:"Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah mentaati
pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan
kami dari jalan yang benar.” [Al Ahzab:66-67]
Mengikuti pemimpin selama sesuai dengan Al Qur’an dan Hadits adalah
satu kewajiban. Namun jika menyimpang dan kita mengikutinya, niscaya
muka kita dibolak-balikan Allah di dalam neraka.
“Pengikut-pengikut mereka berkata (kepada pemimpin-pemimpin mereka):
"Sesungguhnya kamulah yang datang kepada kami dan kanan” [Ash
Shaaffaat:28]
Ayat di atas menjelaskan pemimpin yang menyesatkan ummatnya dengan
berbagai dalih yang meski kelihatan masuk, namun menyimpang dari Al
Qur’an dan Hadits.
“Dan Kami jadikan mereka pemimpin-pemimpin yang menyeru (manusia) ke
neraka dan pada hari kiamat mereka tidak akan ditolong.” [Al Qashash:
41]
Hati-hatilah pada pemimpin yang menyeru kita ke neraka. Tetaplah
berpegang pada Al Qur’an dan Hadits.
Nabi Muhammad bersabda:
Yang aku takuti terhadap umatku ialah pemimpin-pemimpin yang
menyesatkan. (HR. Abu Dawud)
Yang aku takuti terhadap umatku ada tiga perbuatan, yaitu kesalahan
seorang ulama, hukum yang zalim, dan hawa nafsu yang diperturutkan.
(HR. Asysyihaab)
Celaka atas umatku dari ulama yang buruk. (HR. Al Hakim)
Orang yang paling pedih siksaannya pada hari kiamat ialah seorang alim
yang Allah menjadikan ilmunya tidak bermanfaat. (HR. Al-Baihaqi)
Apabila kamu melihat seorang ulama bergaul erat dengan penguasa maka
ketahuilah bahwa dia adalah pencuri. (HR. Ad-Dailami)
Seorang ulama yang tanpa amalan seperti lampu membakar dirinya sendiri
(Berarti amal perbuatan harus sesuai dengan ajaran-ajarannya). (HR. Ad-
Dailami)
Hendaknya kita berhati-hati terhadap ulama seperti di atas.
Allah tidak menghendaki kita jadi kaya, jadi penguasa, dan sebagainya.
Yang diinginkan Allah adalah agar kita jadi orang yang bertakwa. Yaitu
menjalankan segala perintahNya dan menjauhi segala laranganNya:
“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa,
pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan
bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa
mereka disebabkan perbuatannya.” [Al A'raaf:96]
Setiap shalat kita selalu membaca doa: “Ihdinash shiroothol
mustaqiim”. Ya Allah tunjukilah kami jalan yang lurus. Untuk apa
berdoa jika kita tidak mau berada di atas jalan yang lurus dan selalu
mengambil jalan yang menyimpang?
“dan bahwa yang Kami perintahkan ini adalah jalanKu yang lurus, maka
ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan yang lain,
karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalanNya. Yang
demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.” [An'aam:153]
Jangan melanggar larangan Allah dan RasulNya hanya untuk kepentingan
sesaat. Sekali kita mendukung yang bathil, Allah dan masyarakat akan
melihat kita sebagai pendukung kebathilan:
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan
Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat
yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.” [Anfaal:27]
Hendaklah kita selalu mempelajari Al Qur’an agar tidak tersesat:
“Dan sesungguhnya Al Quran itu benar-benar suatu pelajaran bagi orang-
orang yang bertakwa.” [Al Haaqqah:48]
Hanya dengan mentaati Allah dan RasulNya serta bertakwalah kita bisa
mendapat kemenangan:
“Dan barang siapa yang taat kepada Allah dan rasul-Nya dan takut
kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang- orang
yang mendapat kemenangan.” [An Nuur:52]
Segala kekayaan dan jabatan itu tak lain hanya kesenangan dunia.
Akhirat lebih baik bagi orang yang takwa:
“Dan (Kami buatkan pula) perhiasan-perhiasan (dari emas untuk mereka).
Dan semuanya itu tidak lain hanyalah kesenangan kehidupan dunia, dan
kehidupan akhirat itu di sisi Tuhanmu adalah bagi orang-orang yang
bertakwa.” [Az Zukhruf:35]
Media Islam – Belajar Islam sesuai Al Qur’an dan Hadits
http://media-islam.or.id