Bagaiamana menghapal Al-Quran Al-Kariim?

3 kali dilihat
Langsung ke pesan pertama yang belum dibaca

Arnoldison

belum dibaca,
24 Jun 2008, 05.03.0724/06/08
kepadaRant...@googlegroups.com

Bagaiamana menghapal Al-Quran Al-Kariim?
Oleh : Ummu Abdillah & Ummu Maryam

Sebagai seorang mukmin, kita tentunya berkeinginan untuk dapat
menghafal Al-Quran dan setiap kita pasti memimpikan agar dapat
melahirkan anak-anak yang hafal Al-Quran (hafidz/hafidzah). Berikut
ini ada beberapa cara/kaidah dasar untuk memudahkan menghafal, di
antaranya:

1. Mengikhlaskan niat hanya untuk Allah Azza wa Jalla.

Memperbaiki tujuan dan bersungguh-sungguh menghafal Al-Quran hanya
karena Allah Subhanahu wa Ta`ala serta untuk mendapatkan syurga dan
keridhaan-Nya. Tidak ada pahala bagi siapa saja yang membaca Al-Quran
dan menghafalnya karena tujuan keduniaan, karena riya atau sumah
(ingin didengar orang), dan perbuatan seperti ini jelas menjerumuskan
pelakunya kepada dosa.

2. Dorongan dari diri sendiri, bukan karena terpaksa.

Ini adalah asas bagi setiap orang yang berusaha untuk menghafal
Al-Quran. Sesungguhnya siapa yang mencari kelezatan dan kebahagiaan
ketika membaca Al-Quran maka dia akan mendapatkannya.

3. Membenarkan ucapan dan bacaan.

Hal ini tidak akan tercapai kecuali dengan mendengarkan dari orang
yang baik bacaan Al-Qurannya atau dari orang yang hafal Al-Quran.
Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam sendiri mengambil/belajar
Al-Quran dari Jibril alaihis salam secara lisan. Setahun sekali pada
bulan Ramadhan secara rutin Jibril alaihis salam menemui beliau untuk
murajaah hafalan beliau. Pada tahun Rasulullah shallallahu `alaihi wa
sallam diwafatkan, Jibril menemui beliau sampai dua kali.

Para shahabat radliallahu `anhum juga belajar Al-Quran dari Rasulullah
shallallahu `alaihi wa sallam secara lisan demikian pula
generasi-generasi terbaik setelah mereka. Pada masa sekarang dapat
dibantu dengan mendengarkan kaset-kaset murattal yang dibaca oleh qari
yang baik dan bagus bacaannya. Wajib bagi penghafal Al-Quran untuk
tidak menyandarkan kepada dirinya sendiri dalam hal bacaan Al-Quran
dan tajwidnya.

4. Membuat target hafalan setiap hari.

Misalnya menargetkan sepuluh ayat setiap hari atau satu halaman, satu
hizb, seperempat hizb atau bisa ditambah/dikurangi dari target
tersebut sesuai dengan kemampuan. Yang jelas target yang telah
ditetapkan sebisa mungkin untuk dipenuhi.

5. Membaguskan hafalan.

Tidak boleh beralih hafalan sebelum mendapat hafalan yang sempurna.
Hal ini dimaksudkan untuk memantapkan hafalan di hati. Dan yang
demikian dapat dibantu dengan mempraktekkannya dalam setiap kesibukan
sepanjang siang dan malam.

6. Menghafal dengan satu mushaf.

Hal ini dikarenakan manusia dapat menghafal dengan melihat sebagaimana
bisa menghafal dengan mendengar.

Dengan membaca/melihat akan terbekas dalam hati bentuk-bentuk ayat dan
tempat-tempatnya dalam mushaf.

Bila orang yang menghafal Al-Quran itu merubah/mengganti mushaf yang
biasa ia menghafal dengannya maka hafalannya pun akan berbeda-beda
pula dan ini akan mempersulit dirinya.

7. Memahami adalah salah satu jalan untuk menghafal.

Di antara hal-hal yang paling besar/dominan yang dapat membantu untuk
menghafal Al-Quran adalah dengan memahami ayat-ayat yang dihafalkan
dan juga mengenal segi-segi keterkaitan antara ayat yang satu dengan
ayat yang lainnya.

Oleh sebab itu seharusnyalah bagi penghafal Al-Quran untuk membaca
tafsir dari ayat-ayat yang dihafalnya, untuk mendapatkan keterangan
tentang kata-kata yang asing atau untuk mengetahui sebab turunnya ayat
atau memahami makna yang sulit atau untuk mengenal hukum yang khusus.

Ada beberapa kitab tafsir yang ringkas yang dapat ditelaah oleh pemula
seperti kitab Zubdatut Tafsir oleh Asy-Syaikh Muhammad Sulaiman
Al-Asyqar.

Setelah memiliki kemampuan yang cukup, untuk meluaskan pemahaman dapat
menelaah kitab-kitab tafsir yang berisi penjelasan yang panjang
seperti Tafsir Ibnu Katsier, Tafsir Ath-Thabari, Tafsir As-Sadi dan
Adhwaaul Bayaan oleh Asy-Syanqithi.wajib pula menghadirkan hatinya
pada saat membaca Al-Quran.

8. Tidak pindah ke surat lain sebelum hafal benar surat yang sedang
dihafalkan.

Setelah sempurna satu surat dihafalkan, tidak sepantasnya berpindah ke
surat lain kecuali setelah benar-benar sempurna hafalannya dan telah
kokoh dalam dada.

9. Selalu memperdengarkan hafalan (disimak oleh orang lain).

Orang yang menghafal Al-Quran tidak sepantasnya menyandarkan
hafalannya kepada dirinya sendiri. Tetapi wajib atasnya untuk
memperdengarkan kepada seorang hafidz atau mencocokkannya dengan
mushaf. Hal ini dimaksudkan untuk mengingatkan kesalahan dalam ucapan,
atau syakal ataupun lupa.

Banyak sekali orang yang menghafal dengan hanya bersandar pada dirinya
sendiri, sehingga terkadang ada yang salah/keliru dalam hafalannya
tetapi tidak ada yang memperingatkan kesalahan tersebut.

10. Selalu menjaga hafalan dengan murajaah.

Bersabda Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam :
"Jagalah benar-benar Al-Quran ini, demi Yang jiwaku berada di
Tangan-Nya, Al-Quran lebih cepat terlepas daripada onta yang terikat
dari ikatannya."

Maka seorang yang menghafal Al-Quran bila membiarkan hafalannya
sebentar saja niscaya ia akan terlupakan. Oleh karena itu hendak
hafalan Al-Quran terus diulang setiap harinya.

11. Bersungguh-sungguh dan memperhatikan ayat yang serupa.

Khususnya yang serupa/hampir serupa dalam lafadz, maka wajib untuk
memperhatikannya agar dapat hafal dengan baik dan tidak tercampur
dengan surat lain.

12. Mencatat ayat-ayat yang dibaca/dihafal.

Ada baiknya penghafal Al-Quran menulis ayat-ayat yang sedang
dibaca/dihafalkannya, sehingga hafalannya tidak hanya di dada dan di
lisan tetapi ia juga dapat menuliskannya dalam bentuk tulisan.

Berapa banyak penghafal Al-Quran yang dijumpai, mereka terkadang hafal
satu atau beberapa surat dari Al-Quran tetapi giliran diminta untuk
menuliskan hafalan tersebut mereka tidak bisa atau banyak kesalahan
dalam penulisannya.

13. Memperhatikan usia yang baik untuk menghafal.

Usia yang baik untuk menghafal kira-kira dari umur 5 tahun sampai 25
tahun. Wallahu alam dalam batasan usia tersebut. Namun yang jelas
menghafal di usia muda adalah lebih mudah dan lebih baik daripada
menghafal di usia tua.

Pepatah mengatakan: Menghafal di waktu kecil seperti mengukir di atas
batu, menghafal di waktu tua seperti mengukir di atas air.


HAL-HAL YANG DAPAT MENGHALANGI HAFALAN

Setelah kita mengetahui beberapa kaidah dasar untuk menghafal Al-Quran
maka sudah sepantasnya bagi kita untuk mengetahui beberapa hal yang
menghalangi dan menyulitkan hafalan agar kita dapat waspada dari
penghalang-penghalang tersebut.

Di antaranya:

1. Banyaknya dosa dan maksiat.

Sesungguhnya dosa dan maksiat akan melupakan hamba terhadap Al-Quran
dan terhadap dirinya sendiri. Hatinya akan buta dari dzikrullah.

2. Tidak adanya upaya untuk menjaga hafalan dan mengulangnya secara
terus-menerus. Tidak mau memperdengarkan (meminta orang lain untuk
menyimak) dari apa-apa yang dihafal dari Al-Quran kepada orang lain.

3. Perhatian yang berlebihan terhadap urusan dunia yang menjadikan
hatinya tergantung dengannya dan selanjutnya tidak mampu untuk
menghafal dengan mudah.

4. Berambisi menghafal ayat-ayat yang banyak dalam waktu yang singkat
dan pindah ke hafalan lain sebelum kokohnya hafalan yang lama.

Kita mohon pada Allah Subhanahu wa Ta`ala semoga Dia mengkaruniakan
dan memudahkan kita untuk menghafal kitab-Nya, mengamalkannya serta
dapat membacanya di tengah malam dan di tepi siang. Wallahu alam
bishawwab.

(Ummu Abdillah & Ummu Maryam, dinukil dari kutaib: "Kaifa Tataatstsar
bil Quran wa Kaifa Tahfadzuhu?" oleh Abi Abdirrahman)

Balas ke semua
Balas ke penulis
Teruskan
0 pesan baru